Setitik Kerinduan
Setiap kali mendengar lagumu diputar, ada setitik kerinduan untuk bernyanyi berdua bersamamu lagi. Aku tak tahu, mengapa Tuhan menakdirkan seperti ini. Jujur, aku belum bisa melupakanmu. Masih terlintas semua bayang-bayangmu. Semua kenangan tentang kamu dan aku. Seperti pada malam terakhir itu.
Saat itu adalah malam yang sangat bahagia bagiku. Disaat kita bisa bercanda bersama, tawa bersama, makan bersama dan berulang kali sempat aku berfikir dan yakin, bahwa kaulah cinta terakhirku. Dan sama sekali aku tak mau kehilanganmu. Kala itu adalah kebersamaan yang paling indah bagiku selama ini. Tapi entah ada yang beda sekali saat kamu mengajak ku jalan-jalan malam itu. Kamu terlihat sedikit memaksa, layaknya pertemuan terakhir. Tapi aku tak menghiraukan semua itu. Karna bagiku, dengan bersamamu hati ini terasa tenang.
Keesokan setelah malam itu aku keluar bersamamu, aku tidak ada fikiran kenapa kamu tidak ada kabar, biasanya setiap pagi selalu ada kabar darimu, dan aku hanya berfikir positif saja. Mungkin, kamu lagi sibuk dan tidak sempat memberiku kabar. Seperti biasa, ku letakkan ponsel ku. Dan aku segera bergegas mandi pagi. Setelah mandi entah mengapa, aku memilih baju atasan hitam, bawahan hitam, hijab pun juga hitam. “seperti orang mau pergi takziah saja !” kata ibuku. Dan aku hanya tersenyum.
Detik demi detik pun berlalu, berkali-kali aku lihat ponsel, tidak berdering sama sekali. Hingga waktu menunjukkan pukul 11.30 siang. Sediikt muncul rasa gelisah dengan keadaanmu. Tiba-tiba aku berfikir karena waktu itu hari jumat. Ah, mungkin kamu lagi sholat jumat di masjid, dan ku letakkan ponsel ku lagi.
Resah sekali rasa hatiku entah kenapa hanya kamu dan kamu yang ada di fikiranku. Tiga puluh menit kemudian tiba-tiba ponsel ku berdering. Aku cepet-cepat ambil. Ternyata adikmu, aku sempat bingung juga. Ada apa kok tumben adikmu telfon aku. Langsung ku angkat. Antara percaya dan tidak percaya, rasanya mustahil sekali. Adikmu bilang kalau kamu meninggal, dan aku pun langsung bilang “tadi malam masih jalan sama aku lo, ya gak mungkin lah, kamu bercanda ya ?” kataku. Adikmu bilang lagi kamu meninggal karena kecelakaan.
Aku masih belum bisa percaya dan aku hanya mengira ini semua hanya bahan candaanmu, supaya aku datang kerumahmu. Tidak lama-lama, aku langsung kerumahmu dengan berpakaian masih yang tadi pagi kupakai. Memakai hitam-hitam dari tadi pagi ku kira tak ada firasat apapun. Akan ku buktikan kalau semua ini hanya aku dikerjain. Tapi setelah sampai di jalan, ada banyak orang sambil membawa ember bertaplak dan berjalan ke arah rumahmu. Aku tersentak, langsung aku ikuti jalannya orang itu .
Tapi apa daya, ternyata rumahmu tujuan orang-orang itu. Dan ternyata benar adikmu sudah menantiku di samping rumahmu. Langsung aku digandeng dan di antar menemui ibumu. Langsung ku cium dan bersujud pada ibumu. Tak henti-henti keluar air mata ini dan terdengar isak tangisku tak berhenti saat melihat badanmu ditutup kain hijau itu. Seakan-akan hanya wajahmu yang terlintas di setiap derai air mataku saat aku mengantar mu kerumah abadimu. Sampai pemakaman selesai, aku belum juga beranjak pulang. Rasanya aku ingin terus disini bersamamu dan juga orang tuamu.
Saat berpamitan dengan kedua orang tuamu, air mata ini bercucuran lagi entah berat rasanya ingin pulang. Disepanjang perjalanan masih terdengar isak tangisku, dan seakan-akan tidak percaya dengan hari ini, dan aku masih menganggapmu ada. Tapi setelah kejadian itu, keluargaku dan keluargamu sampai saat ini masih berhubungan baik. Kadang orang tuamu kerumahku dan juga aku sering kerumahmu tidak lain untuk ziarah kerumah abadimu bersama-sama orang tuamu. Aku yakin bahwa takdir Allah lebih baik dari semua yang aku inginkan, dan aku harus kuat memahami ini sebagai anugerah terindah. Dan aku percaya kamu orang terbaik selama ini untukku. Dan surga menantimu disana.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar